Iklan

Adv

Cerita Sore di Masa Pandemi, “Siapkah Milenial Menjalani New Normal di Masa Pandemi”

Rabu, 03 Juni 2020, 6/03/2020 11:57:00 PM WIB Last Updated 2020-06-03T16:57:54Z
Penulis: Grandy Umbu Endalu Radandima


OPINI,harian7.com - Tepat hari Rabu, 3 Juni 2020, pukul 14.00-17.00 WIB diskusi berlangsung dengan topik “Siapkah milenial menjalani new normal di masa pandemi”. Adapun narasumber dalam diskusi yaitu Sahat Martin. P. Sinurat (Founder rumah milenial Indonesia), Dodi Lapihu (Direktur eksekutif institute for action against corruption), Alan Christian Singkali (Gerakan milenial Sangtorayan) dan Eliaser Wolla Wunga (Inisiator forum komunikasi mahasiswa Sumba di Jawa). Secara keseluruhan peserta diskusi yang bergabung dua puluh enam orang.

Tujuan di selenggarakan diskusi ini, untuk memberikan edukasi terhadap kondisi generasi milenial di masa pandemi. Responsif perubahan, serta strategi yang harus di siapkan generasi milenial dalam menjalani new normal di masa pandemi.

Sahat menyampaikan new normal merupakan perilaku aktivitas yang dilakukan secara produktif seperti sebelum pandemi menyebar, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. New normal di terapkan agar memberikan penanganan pada beberapa bidang yang terkena dampak seperti kesehatan, sosial dan ekonomi mikro maupun makro. Sahat sepakat dengan diberlakukan new normal, mengingat vaksin virus covid-19 belum ditemukan dan butuh waktu yang cukup lama oleh peneliti menemukan vaksin tersebut.

Tapi ada beberapa hal penting yang harus di perhatikan ketika diberlakukan new normal yaitu masyarakat harus di siplin mematuhi protokol kesehatan, pemerataan jaringan internet kepada seluruh desa, memberikan stimulus pendidikan bagi anak-anak yang akan melanjutkan pendidikan,  pemerintah harus menyiapkan panduan-panduan yang jelas dengan di berlakukan new normal seperti transportasi publik dan ruang publik lainnya. Generasi milenial lebih cepat mentransformasikan pendidikan yang sebelumnya tatap muka, menjadi penggunaan digital. Serta anak muda membantu orang tua untuk mengenalkan digital dan penggunaannya.

Lanjut Alan menyampaikan hadirnya virus yang terjadi seratus tahun sekali, tidak menutup peluang untuk generasi milenial tetap beraktivitas secara produktif dan kreatif. Generasi milenial merupakan kunci masuk menciptakan peluang di new normal. Alan menyampaikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan anak muda yaitu digital movement dengan tidak bisa bertemu secara fisik, mampu memaksimalkan gerakan digital untuk melakukan aktivitas. Gerakan intrepreneurship, harus beradaptasi dengan menyesuaikan penggunaan digital dan gerakan sosial dalam memberikan ide, gagasan serta gotong royong bersama masyarakat sekitar.

Dodi menyampaikan dengan kehadiran pandemi covid-19, mengajarkan pada kita cara hidup sehat dan sadarnya penting kesehatan. Situasi di masa pandemi membuat generasi milenial yang memiliki karakter adaptif lebih siap terhadap perubahan yang ada. Dodi menekankan milenial harus lebih siap dan adaptif dalam krisis global. Adapun beberapa dampak pada sektor pendidikan yaitu modernisasi pendidikan bertransformasi dari tatap muka ke virtual. Sektor kesehatan infrastruktur dan sistem bekerja cepat dalam pengelolaan. Dampak e-commerce perilaku konsumen akan berubah melalui virtual online. Krisis kesehatan yang terjadi melibatkan krisis ekonomi dan apabila krisis ekonomi tidak di kelola dengan baik maka krisis ekonomi akan memicu terjadinya krisis keamanan.

Kondisi saat ini tergantung pada karakter milenial yang di miliki. Ada beberapa karakter milenial yaitu labil dan ada yang menyukai tantangan baru. Karakter yang dimiliki beragam-ragam, generasi milenial menentukan respon serta peluang yang di dapat dan di ciptakan pada kondisi yang di alami saat ini. Kondisi di masa pandemi saat ini, membuat keadaan bumi semakin membaik pungkas Eliaser.

Sebagai generasi milenial bagaimana merespon kebijakan new normal yang beredar pada media serta diskusi yang masih mengalami pro kontra? Serta budaya (cium hidung, jabat tangan, dan lainnya) dan tantangan sosial yang terjadi dengan bertolak belakang menerapkan protokol kesehatan? Pertanyaan triwiningsih, peserta diskusi.

Ricky Arnold menanyakan apakah new normal akan mengarahkan generasi milenial lebih menjadi konsumen media sosial dan IT? Ataukah hingga pada menciptakan sikap individualistis dalam generasi milenial!

Alan merespon kita tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dengan meyesuaikan karakter masyarakat serta budaya di daerah tersebut. Serta perlu dirumuskan dan di biasakan dampak-dampak yang sesuai realita. Ricky menambahkan bahwa generasi milenial harus menjadi terdepan dan mengajar serta memperkenalkan budaya melalui virtual agar dengan penggunaan virtual nilai budaya tidak tergerus dengan kondisi dan gerakan virtual yang di manfaatkan saat ini.

Alfons, peserta diskusi menyebutkan generasi milenial harus menjadi contoh dan menciptakan peluang untuk merespon ketahanan pangan di situasi sulit ini dengan memanfaatkan halaman rumah di daerah masing-masing untuk menanam.

Ada beberapa sektor yang menjadi utama pasca pandemi yaitu Tourism (pariwisata lokal) dimana masyarakat akan memaksimalkan perjalanan dan petualangan yang sudah mengalami kejenuhan (stay at home) pada masa pandemi, tempat hiburan dan ketersediaan makanan sehat tambah Dodi.

Harapan bersama menjalani new normal di masa pandemi, generasi milenial lebih siap dan adaptif menciptakan peluang dan kreativitas ditengah produktivitas masa pandemi. Menciptakan sel-sel untuk melakukan perubahan pada masyarakat sekitar dengan kemampuan yang di miliki, memberikan edukasi, serta menjawab kebutuhan masyarakat untuk mengingatkan protokol kesehatan yang berlaku.(*)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini