-->

Iklan

Adv

Tantangan Gereja Terhadap Kecanggihan Teknologi di Era Revolusi Industri 4.0

Minggu, 08 Desember 2019, 1:47:00 PM WIB Last Updated 2019-12-08T06:49:47Z
Konsep Kunci : Teknologi, Revolusi Industri 4.0

Salatiga,harian7.com - Dalam memasuki milinium ketiga tahun ini, kita diperhadapkan dengan berbagai perubahan yang radikal. Perubahan ini yang terjadi secara global dan mempengaruhi dunia lokal. Perubahan ini dipandang sebagai kesempatan untuk berkarya dan maju, namun sebagian lagi melihatnya sebagai sesuatu yang tidak pasti dan akan mendatangkan kesulitan. Perubahan secara global ini dipacu oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dunia ini.

Secara khusus perkembangan Teknologi Informasi dan komunikasi yang  begitu cepat dalam milinium ini, yang membuat dunia ini serasa tidak ada halangan untuk komunikasi satu dengan yang lainnya. Melihat di Gereja sudah banyak memakai Kecanggihan Teknologi untuk kepentingan Pra-sarana Gereja itu sendiri. Namun tidak bisa dihindari bahwa banyak jemaat menyalahgunakan Teknologi tersebut.

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui Dampak yang Akan Diterima Gereja Ketika Menerima Kecanggihan Teknologi Masuk Ke dalam Gereja dan Bagaimana Gereja Dapat Memanfaatkan Kecanggihan Teknologi Dalam Peribadahan.

Teknologi adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. Teknologi informasi dan komunikasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan  proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

Dari dua pendefinisian sederhana di atas tampak bahwa teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi, Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media.

Industri 4.0 adalah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri meliputi manufaktur dan logistik serta proses lainnya. CPS adalah teknologi untuk menggabungkan antara dunia nyata dengan dunia maya. Penggabungan ini dapat terwujud melalui integrasi antara proses fisik dan komputasi (teknologi embedded computers dan jaringan) secara close loop (Lee, 2008).

Hermann dkk (2015) menambahkan bahwa Industri 4.0 adalah istilah untuk menyebut sekumpulan teknologi dan organisasi rantai nilai berupa smart factory, CPS, IoT dan IoS. Smart factory adalah pabrik modular dengan teknologi CPS yang memonitor proses fisik produksi kemudian menampilkannya secara virtual dan melakukan desentralisasi pengambilan keputusan. Melalui IoT, CPS mampu saling berkomunikasi dan bekerja sama secara real time termasuk dengan manusia. IoS adalah semua aplikasi layanan yang dapat dimanfaatkan oleh setiap pemangku kepentingan baik secara internal maupun antar organisasi.

Kata Gereja (Church dalam Bahasa Inggris) berhubungan dengan kata kirk dalam Bahasa Skotlandia dan kirche dalam Bahasa Jerman. Semua istilah ini berasal dari kata Yunani kuriakon. Bentuk ajektif netral dari kurios ("Lord"), berarti "dari Tuhan". Istilah church juga diterjemahkan dari kata Yunani ekklesia, yang berasal dari kata ek, berarti "keluar dari," dan kaleo yang berarti " memanggil." Jadi gereja adalah "suatu kelompok yang dipanggil keluar."

Dampak yang Akan Diterima Gereja Ketika Menerima Kecanggihan Teknologi Masuk Ke dalam Gereja.

Dampak yang akan diterima memang membuat kecemasan seperti yang dijelaskan Jhon Naisbit dan kawan kawannya yaitu mengenai persoalan kecanggihan Teknologi yang sudah mulai masuk kedalam penginjilan yang dilakukan oleh Gereja-Gereja pada masa kini. Ini juga masih menjadi persoalan apakah berita Injil harus berubah (dituntut) dalam kerangka pemikiran Globalisasi, karna pada hakikatnya inti berita Injil tidak dapat diubah. Dalam kaitan perkembangan Teknologi ada dua opsi agar digunakan terdahap perkembangan Teknologi ini.

Pendekatan yang pertama dilihat dari sisi negatifnya, sehingga menolak semua bentuk perkembangan Teknologi karna nanti aka terjadi perubahan yang jelek terdahap perkembangan kemanusiawian. Dan alasan yang juga dikembangkan yaitu penginjilan sepatutnya bukan hanya sekadar memberitakan Injil tetapi penginjilan adalah hubungan yang manusiawi, personal, asli antara pemberita dengan orang lain. Penginjilan mewajibkan kita untuk hadir dan bertemu dengan orang lain secara personal dan alamiah, dalam rangka memperjuangkan, menghormati, dan menyemangati kehidupan itu sendiri. Pendekatan yang kedua adala yang lebih positif dari model pendekatan pertama, yaitu pendekatan yang menerima bahkan menggunakan media Teknologi dengan sedemekian rupa untuk Penginjilan, dengan mencermati penginijilan yang paripurna (holistic) maka golongan ini juga mencermati peran Iptek dalam mewujudkan keselamatan yang paripurna dan seutuhnya baik dalam dunia maupun dalam menuju surge.

Dalam kaitan dengan pemberitaan Injil, pengakuan Iman Kristen bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya kebenaran, dipertanyakan kembali dalam konteks kini. Ini menjadi sebuah persoalan tersendiri dalam pemberitaan Injil. Jika Injil dipahami sebagai berita tentang Yesus Kristus adalah satu-satunya juruselamat bagi manusia, maka pemberitaan Injil menjadi sesuatu yang dipertentangkan dan menjadi hal yang sangat tidak diharapkan. 

 Perkembangan dan kesadaran manusia akan Human Rights melahirkan kesulitan tersendiri juga akan pemberitaan Injil, karena pemberitaan injil dianggap merampas hak manusia untuk tetap ada dalam agama dan kepercayaannya. Demi alasan kebebasan, pemberitaan Injil ditolak.

Semangat Post-modernisme yang menolak kesaksian berita Injil dengan merelativkan kebenaran Injil menjadi catatan tersendiri dalam persoalan masa kini. Berita Injil terus dirongrong, bahkan tidak jarang dibedah demi rasionalitas, humanitas dan kesesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan ini secara tidak langsung memberikan peluang sekularisasi Injil, sehingga berita Injil bukan lagi menjadi berita sukacita dan keselamatan melainkan diturunkan derajatnya pada tataran pragmatis. Beberapa solusi alternatif coba dikembangkan oleh berbagai teolog dalam kaitan dengan pembicaraan mengenai pemberitaan Injil dan konteks pluralisme yang berkembang adalah dengan mengadakan dialog antar umat beragama, bagi mereka memang penginjilan tetap merupakan perintah Allah yang tidak dapat diturunkan derajatnya (taken for granted), tetapi kemajemukan juga merupakan fakta yang tidak dapat dihilangkan.  Sehingga solusi yang coba ditawarkan adalah mengenai dialog yang melaluinya Injil dapat diberitakan tanpa menghilangkan kemajemukan Namun, metode dialog ini tidak sepatutnya dapat digunakan karena seperti yang dijelaskan oleh Stevri Indra Lumintang, (bahwa metode dialog telah merubah arti dan hakikat masing-masing agama, termasuk merubah arti agama Kristen. Karena metode dialog ini telah melangkah lebih jauh dari metode dialog sebelumnya, di mana dulunya dialog dilihat sebagai wadah persekutuan antar umat beragama; namun dalam perkembangan selanjutnya, dialog menjadi usaha masing-masing dan antar agama untuk mempelajari sampai pada taraf menerima keabsahan, kebenaran semua agama).

Bagaimana Gereja Dapat Memanfaatkan Kecanggihan Teknologi Dalam Peribadahan
Di tengah tantangan-tantangan tersebut, tentu ada peluang yang dibuka oleh perkembangan teknologi hari ini. Untuk itu gereja tidak boleh menutup diri, tetapi tidak juga dengan serta-merta menerima semuanya. Dalam hal ini dibutuhkan hikmat. Dengan teknologi, gereja menjadi lebih mudah menyebarkan pesan Firman Tuhan, menyajikan konten-konten yang meneguhkan jemaat, melakukan penginjilan, memberikan informasi kepada khalayak ramai, menanggapi pertanyaan dan permintaan konseling dari jemaat. Teknologi juga dapat menjadi pendukung acara ibadah. Kini sudah tersedia berbagai sistem presentasi multimedia untuk gereja yang dapat digunakan dalam ibadah.

Perekaman video hingga live streaming ibadah pun tidak lagi merupakan hal yang terlalu sulit atau mahal.Namun perlu diingat, dengan banyaknya persaingan dari konten-konten yang dipertanyakan, maka gereja perlu mengemas dan menyajikan konten-kontennya dengan baik, agar menarik, berkualitas unggul, dan tampak layak dipercaya. Sekadar memiliki situs web dan hadir di media sosial saja belum cukup. Untuk itu keterlibatanpara pakar di bidang ini dibutuhkan untuk membantu dalam penyajian konten, dan juga melakukan pelatihan bagi pengurus serta memberikan seminar bagi jemaat.Di samping itu gereja perlu tetap memelihara keterlibatan jemaat dalam pertemuan jemaat secara fisik. Pertemuan maya tidak dapat menyaingi keunggulan hubungan antar manusia secara tatap muka.

Ketulusan dalam kasih, perhatian, keramahtamahan dan pelayanan di dunia nyata harus dipelihara agar komunitas fisik tetap terjaga dan tidak tergantikan oleh komunitas maya. Gereja perlu memerangi kesepian, ketidakpedulian, keegoisan yang ada dalam diri anggota jemaat dan membangkitkan gairah mereka untuk bertemu dengan sesama saudara seiman di dunia nyata.

Teknologi memang sudah cukup berguna pada masa sekarang dalam gereja. Akan tetapi ada saja beberapa orang yang salah menggunakannya didalam gereja . Maka daripada itu pemimpin-pemimpin seperti pendeta atau sintua-sintua dan juga jemaat, haruslah berpikir kritis dalam menggunakan teknologi tersebut jika sudah menyangkut hal kegerejaan atau ibadah.  Kita harus bisa menyaring hal-hal apa saja yang bisa kita pergunakan dalam hal teknologi tersebut.

Maka dari itu seharusnya Kecanggihan Teknologi harus dimanfaatkan sedemikian rupa bukannya malah memberikan efek malas terhadap jemaat ketika telah ada penginjilan langsung atau Khotbah Live Streaming.

Daftar Pustaka
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jgti/article/viewFile/18369/12865 (diakses 29 november 2019 09.34)

file:///C:/Users/Asus/Downloads/PENGARUH%20PERKEMBANGAN%20REVOLUSI%20INDUSTRI%204.0%  (diakses 25 November 2019 17.00)

20DALAM%20DUNIA%20TEKNOLOGI%20DI%20INDONESIA%20UAS%20Murti%20Ningsih.pdf (diakses 25 November 2019 17.00)
Sairin ,Weinata . Visi Gereja Memasuki Milenium Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002)



Penulis : Mario Pakpahan Mahasiswa UKSW Fakultas Teologi
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini