Iklan

Adv

Konseling Pastoral pada Anak Broken Home

Minggu, 08 Desember 2019, 12/08/2019 03:06:00 PM WIB Last Updated 2019-12-08T08:08:00Z
Key Concept : Konseling Pastoral, Broken Home, Keluarga

Salatiga,harian7.com - Semua manusia sejak dilahirkan adalah orang baik. Namun kebaikan pada diri tiap manusia bisa berubah tergantung dengan situasi ataupun kondisi yang dihadapi. Ada banyak faktor yang bisa mengubah kebaikan dari diri tiap manusia baik yang datang dari keluarga sendiri maupun dari lingkungan sendiri. Keluarga adalah wadah pembentukkan pribadi setiap manusia.

Sewaktu-waktu masalah bisa saja datang kepada keluarga hingga berdampak tidak baik kepada keluarga itu sendiri khususnya anak. Masalah keluarga paling banyak dijumpai ialah kegagalan dalam berumah tangga yang berujung pada perceraian kedua orangtua dan berdampak tidak baik pula pada anak-anak itu sendiri yang biasa disebut dengan broken home. Bahwa anak yang broken home sangat rentan bermasalah secara mental maupun jeleknya kepribadian anak itu sendiri apalagi kurangnya perhatian orangtua itu sendiri kepada anaknya setelah bercerai.

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keluarga broken home terhadap perilaku dan emosi anak serta pemecahan masalah atau solusi kepada anak yang broken home melalui konseling pastoral.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Konseling ialah:

 1. Pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan sebagainya; pengarahan; 2. Pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah; penyuluhan. Gibson ( 1985 ) menyatakan bahwa konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Pastoral berasal dari bahasa latin pastore, dalam bahasa Yunani di sebut poimen yang berarti gembala. Di dalam kata gembala terkandung pengertian tentang hubungan antara Allah yang penuh kasih dengan manusia lemah yang memerlukan arahan dan bimbingann (Van Beek, 2011:10). Jadi, konseling pastoral adalah suatu fungsi yang bersifat memperbaiki yang dibutuhkan seseorang yang sedang mengalami krisis yang merintangi pertumbuhannya.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan “Keluarga” adalah: ibu bapak dengan anak-anaknya, satuan kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat. Keluarga berasal dari Bahasa sanskerta: kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota” “kelompok kerabat”, keluarga adalah lingkungan dimana beberapa beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Broken berasal dari kata break yang berarti keretakan, sedangkan home mempunyai arti rumah atau rumah tangga (Hasan Shadily, 1996:81). Jadi broken home adalah keluarga atau rumah tangga yang retak. Hal ini dapat disebut juga dengan istilah konflik atau krisis rumah tangga. Menurut (Willis, 2008:66) Broken Home dapat dilihat dari dua aspek yaitu: 1. Keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab salah satu dari kepala keluarga itu meninggal atau telah bercerai 2. Orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau ibu sering tidak dirumah,dan atau tidak memperlihatkan hubungan kasih sayang lagi. Misalnya orang tua sering bertengkar sehingga keluarga itu tidak sehat secara psikologis. Dari keluarga yang digambarkan diatas, akan lahir anak-anak yang mengalami krisis kepribadian, sehingga perilakunya sering salahsuai. Mereka mengalami gangguan emosional dan bahkan neurotic.Kata Broken home berasal dari dua kata yaitu broken dan home.


Pengaruh Keluarga Broken Home terhadap Perilaku dan Emosi Anak
Perceraian bukan lagi hal yang asing di Indonesia. Saat ini perceraian bisa dikatakan sebagai hal yang lumrah dan sudah memasyarakat. Akibat dari keegoisan orangtua inilah yang nantinya akan berimbas buruk pada kelangsungan hidup anak. Perceraian memberikan dampak psikologi yang sangat besar kepada anak. Secara psikologis dikenal ada dua jenis kebutuhan dalam diri individu yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial psikologis. Kebutuhuan biologis dan kebutuhan sosial psikologis menyangkut hal-hal yang terkait dengan kondisi fisik pribadi atau jasmani setiap anak. Dunia anak adalah dunia yang sangat bergantung pada orang tua, terutama anak yang usianya masih dibawah 13 tahun yang mulai merasakan perbedaan ketika orang tuanya mendadak berpisah. Tentu hal ini menanamkan trauma yang sangat dalam dan sangat membekas. Bagi seorang anak, remaja, atau usia dewasa pun akan menjadikan kejadian tersebut sebagai bencana yang sangat menekan batin. Anak yang tumbuh dengan keadaan orangtua yang terus menerus terlibat konflik akan membuat perkembangan anak menjadi kurang baik. Kesibukan orangtua dengan pekerjaannya masing-masing menyebabkan anak tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup. Sehingga kebanyakan anak bertingkah laku seperti berandalan, dan tidak memiliki etika. Anak akan berperilaku nakal, mengalami depresi, melakukan hubungan seksual secara aktif serta kencenderungan pada obat-obat terlarang.

Anak yang berperilaku tidak baik, tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kesalahannya. Tidak bisa orangtua memarahkan atau bahkan memukul anak mereka sesukanya. Sebagai orangtua, harus bisa memahami apa yang diinginan anaknya, kenapa anak mereka bisa memiliki perilaku seperti itu. Terkadang orangtua  kurang menyadari kenapa anaknya memiliki perilaku buruk. Jika dibiarkan terus menerus maka gangguan ini akan berdampak pada sulitnya anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Dampak psikologis yang diterima seorang anak berbeda-beda, tergantung usia  anak atau bagaimana tingkat  perkembangan seorang anak. Broken home ini juga berdampak pada prestasi anak-anak dan akan mengalami kemerosotan semangat dalam belajar. Anak cenderung malas belajar, mereka tidak mempunyai kemauan dan motivasi lagi untuk belajar. Bisa dilihat dari kehidupan, anak yang berasal dari keluarga broken home mengalami guncangan, malas belajar, dan anak yang berasal dari keluarga utuh, mereka sangat memiliki kemauaan untuk belajar atau menuntut ilmu. (Riau Mandiri, Senin, 22 Februari 2016, pukul 09:22:16 WIB)
Pemecahan Masalah atau Solusi kepada Anak Broken Home melalui Konseling Pastoral.

Dalam kasus ini, konselor mempunyai peran pentig dalam penanganan anak yang memiliki latar belakang keluarga broken home yaitu mencegah lahirnya anak yang berkepribadian buruk dengan mengajak orangtua untuk tetap bertanggung jawab dalam pertumbuhan kepribadian anak serta melakukan konseling atau menangani anak-anak yang sudah memiliki kepribadian buruk. Sebgai langkah terapi atau penyembuhan terhadap anak yang sudah menjadi korban, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang konselor dalam proses konseling, yaitu fokuskan tahap pertama untuk membangun hubungan baik dengan anak. Hubungan yang terbangun nantinya akan mempermudah konselor masuk dalam dunia anak sehingga mempermudah untuk memahami masalah yang dihadapi oleh konseli (anak). Pada tahap berikutnya usahakan untuk masuk lebih dalam untuk menyimak ke dalam proses cara berpikir dan perasaan konseli (anak). Berilah penghargaan pada setiap kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dan selalu katakan hal-hal yang baik mengenai kedua orang tuanya. Saat proses konseling berlangsung, seorang konselor harus terus melakukakan pembicaraan dengan orang tua konseli (anak) untuk melihat apakah kondisi konseli (anak) telah mencapai tujuan konseling dan bisa dikatakan sembuh dari rasa trauma akibat perceraian orangtuanya.

Orangtua pun turut ambil andil dalam penyembuhan trauma atau perilaku yang buruk terhadap si anak Hal yang bisa dilakukan oleh orangtua ialah membantu anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan rutin di rumah. Anak-anak pun tidak dapat dipaksa untuk memihak pada satu pihak yang sedang cekcok dan melibatkan anak dalam proses perceraian tersebut. Hal lain yang bisa membantu anak adalah mencarikan orang dewasa lain seperti bibi atau paman, yang untuk sementara dapat mengisi kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah dan ibunya. Supaya anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka dalam mencari figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi hadir seperti ketika belum ada perceraian.

Dari karya ilmiah Konseling Pastoral pada Anak Broken Home ini pengaruh perilaku dan emosi anak sangat terganggu dan melalui Konseling Pastoral adalah solusi yang sangat membantu bagaimana menyembuhkan luka yang dialami anak saat mereka kehilangan atau bahkan kedua orangtua mereka saat dan setelah orangtua mereka bercerai. Jika tidak betul-betul diperhatikan maka anak akan terganggu secara psikologis dan secara fisik.


Keluarga sangatlah penting bagi perkembangan anak pada masa-masa yang mendatang, baik secara psikologis maupun secara fisik. Selain itu keluarga juga sebagai tempat untuk berlindung dan memperoleh kasih sayang. Namun, bagaimana jika peran keluarga sebagai pelindung dan tidak ada tempat untuk berlindung. Kemana mereka harus pergi jika tempat perlindungan saja keluarga tidak punya? Apa mereka harus mencari perlindungan di jalan? Tidak! Anak adalah generasi penerus yang seharusnya dijaga dengan baik. Orangtua harus menjaga anak-anak mereka sebagaimana mestinya peran orangtua. Perceraian bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah. Perceraian adalah penerus daripada masalah selanjutnya. Maka dari itu orangtua harus memilih antara ego mereka masing-masing atau masa depan anak mereka.

Daftar Pustaka

https://abumaimunah.files.wordpress.com/2012/11/pengertian-konseling.pdf (diakses 27 November 2019 pukul 13.14)

http://repository.uma.ac.id/bitstream/123456789/1873/5/121804081_file%205.pdf (diakses 27 November 2019 pukul 13.18)
http://etheses.uin-malang.ac.id/1362/6/06210052_Bab_2.pdf (diakses 27 November 2019 pukul 13.21)

Penulis : Jenefer Febiola Sitorus Mahasiswa UKSW Fakultas Teologi

Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini