Iklan

Adv

Parpol Pemenang Pemilu 2019 Harus Berani Mulai Sekarang Menyiapkan Tokoh Untuk Menduduki Kursi “Salatiga 1”

Jumat, 23 Agustus 2019, 8/23/2019 02:02:00 AM WIB Last Updated 2019-08-22T19:02:12Z
SALATIGA, harian7.com – Meskipun pemilihan walikota dan walikota (Pilwalkot) Salatiga masih beberapa tahun lagi, tidak ada salahnya sebagai partai politik (parpol) pemenang Pemilu 2019, yaitu PDI Perjuangan mulai menyiapkan tokoh-tokoh bakal calon Walikota Salatiga. Mulai sekarang ini, saat yang tepat untuk memulai melakukan penjaringan. Dan sekali-lagi, saatnya PDI Perjuangan harus berani dan dapat menempatkan “pilihannya” untuk menduduki jabatan “Salatiga 1” atau Walikota Salatiga. Demikian diungkapkan Petrus Yustinus Parito, tokoh masyarakat Salatiga asal Tegalrejo, kecamatan Argomulyo kepada harian7.com, Kamis (22/8/2019).

          “PDI Perjuangan sebagai partai politik (parpol) pemenang Pemilu 2019 harus berani memulai menjaring tokoh-tokoh untuk diajukan dalam pemilihan walikota dan wakil walikota Salatiga dalam Pilkada mendatang. Jangan sampai terlena karena waktu masih lama. Selain itu, dapat dipilih bakal calon yang masih muda, punya keberanian, enerjik serta pinter dalam menata Kota Salatiga ke depannya,” kata PY Parito.

          Ditambahkan, jika memang perlu parpol menggandeng akademisi dari Kota Salatiga seperti dari UKSW, IAIN maupun STIE AMA untuk membahas dan melakukan penjaringan tokoh-tokoh siapapun dan darimana pun untuk nantinya dicalonkan menjadi Walikota Salatiga. Entah itu tokoh dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Kalimantan, Aceh ataupun Papua jika memang punya nyali dan keberanian untuk memimpin Salatiga, tidak ada salahnya untuk dicalonkan.

          Menurutnya, Walikota Salatiga mendatang harusnya yang masih muda, punya keberanian melakukan perubahan, enerjik serta pinter. Dan jangan sampai terkotak pada calon ‘putra daerah’. Pasalnya, siapapun walikota dan wakil walikotanya harus dapat melakukan perubahan terhadap masalah besar yang selama ini menghingapi Kota Salatiga.

Masalah besar yang sampai sekarang belum berhasil terselesaikan  diantaranya membangun kembali GOR Kridanggo yang telah mangkrak beberapa tahun, Pasar ‘Sapi’ Rejosari yang pernah terbakar beberapa tahun lalu, Pasar Jetis, Pasar Raya yang sampai sekarang tidak jelas hubungan bisnisnya dengan PT Matahari Mas Sejahtera serta eks Terminal Soka. Semua itu merupakan asset Pemkot Salatiga yang seharusnya menjadi prioritas pembangunan. Yang mengejutkan dan sangat disayangkan, mengapa justru Pemkot Salatiga melakukan pembangunan Lapangan Pancasila.

          “Harusnya, Pemkot Salatiga melalui Walikota Salatiga ini berani membangun yang benar-benar prioritas dan dapat menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD). Paling tidak, Pasar Rejosari, Pasar Jetis harus segera terwujud sesuai rencana. Bahkan, Pasar Raya itu juga harus segera diwujudkan menjadi area bisnis yang mendatangkan pendapatan besar. Jangan hanya menjadi bangunan penghias kota seperti sekarang ini. Jika dibandingkan dengan membangun Lapangan Pancasila, maka membangun pasar akan lebih cepat mendatangkan PAD,” ujar mantan PNS DPU Kota Salatiga.

          Disamping PDI Perjuangan yang harus menyiapkan ‘tokohnya’, parpol lain yang mempunyai basis massa seperti Partai Gerindra, PKB dan PKS harus berani melangkah dengan gerak cepat menyiapkan tokohnya untuk menduduki kursi ‘Salatiga 1’ mendatang.

          “Apalagi sekarang ini Pak Yuliyanto sudah menjabat dua kali periode, maka dalam Pilwalkot Salatiga mendatang harus diramaikan dengan tokoh-tokoh muda yang enerjik, berani dan pinter untuk berkompetisi dalam meraih kursi ‘Salatiga 1’. Pinter disini harus mempunyai pemikiran brilian dalam melakukan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat Salatiga. Selain itu, jangan sampai masyarakat Salatiga disodori tokoh yang hanya berduit saja untuk dipilih, hal ini tentunya bukan menjadi pilihan utama dalam memilih tokoh untuk memimpin Kota Salatiga,” tuturnya. (Heru Santoso)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini