Iklan

Adv

Kenapa Sih Wabup Semarang Sering Kenakan Baju Adat Jawa Disetiap Acara, Ternyata Ini Alasanya..

Kamis, 05 Maret 2020, 1:21:00 AM WIB Last Updated 2020-03-04T18:28:13Z
Ungaran,harian7.com - Ajining diri ana ing lathi, ajining saliro ana ing busana (bahasa jawa-red), yang berarti harga diri seseorang ada di lidah atau perkataannya, dan selera seseorang dapat dilihat dari busana/pakaian yang dikenakannya. Memaknai hal tersebut, itu yang menjadi alasan Wakil Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha, S.H., M.H., terlihat sering mengenakan pakaian adat Semarangan di beberapa acara resmi Pemerintah Kabupaten Semarang.

Disampaikan H Ngesti Nugraha SH MH saat ditemui harian7.com, dirumah dinas baru baru ini mengungkapkan, selain filosofi selera, ternyata ada penjelasan lain."Busana khas Kabupaten Semarang memiliki banyak arti, dan ini mencirikan keluhuran budi pekerti sesepuh kita kala itu," ungkapnya.

Dijelaskan Ngesti, mulai dari ikat kepala, tentunya memiliki makna untuk membatasi pemikiran kita. Agar pemikiran kita tidak melebar kemana - mana. Menurutnya, apa yang ada di kepala itu, seringkali penuh dengan nafsu, untuk itulah perlu dibatasi atau di iketi (diikat).

"Ikat kepala ini memiliki arti, untuk membatasi pemikiran - pemikiran negatif yang ada di kepala kita. Karena menurut leluhur kita, akal ini seringkali penuh dengan keinginan - keinginan duniawi, untuk itulah perlu dibatasi dengan simbol ikat kepala," jelasnya.

"Iket harus diikatkan kencang, yang berarti juga hidup itu harus punya prinsip untuk mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi," lanjutnya.

Merambah pada baju beskap, Ngesti yang seringkali datang dalam acara - acara budaya masyarakat Kabupaten Semarang, memberikan penjelasan maknanya.

"Setiap baju orang jawa pasti ada beniknya (kancing baju-red), dimana tiap perilaku orang jawa itu harus diniknik. Dihitung cermat, apapun yang akan diperbuat harus diperhitungkan, baik buruknya untuk masyarakat. Jangan sampai merugikan, menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Untuk itu, kita sebagai pemimpin harus bijak dan cermat dalam mengambil keputusan,"tutur Ngesti Nugraha.

Selanjutnya, Calon Bakal Bupati Semarang menjelaskan, sabuk atau ubed yang berarti hidup itu harus ubed (bekerja harus bersungguh - sungguh), jangan sampai apa yang dilakukan jangan sampai tidak ada hasilnya.

"Di dalam beskap yang dipakai selain sabuk/ubed, ada epek. Setelah ubed, semua itu harus diepek - epek, digoleki (dicari-red), dengan pengetahuan yang berguna. Setelah itu ada timang, karena ilmu itu harus gamblang, tidak akan ada rasa samang (khawatir),"paparnya.

Menyusul penjelasan tentang jarik, menurut Ngesti Nugraha, aja serik atau jangan gampang iri terhadap orang lain. Agar saat kita menghadapi masalah untuk berhati - hati, tidak grusa - grusu dan emosional.

"Selanjutnya kami menggunakan sandal bandhol jepit, bukan selop. Kenapa? Dalam filosfi orang jawa, sandal ini disebut Canela yang dijabarkan canthelno jroning nala (peganglah kuat dalam hatimu-red). Dalam menyembah kepada Tuhan, hendaklah dari lahir dan batin, sujud di kakiNya. Sumeleh atau pasrah atas semua kuasaNya," ungkap pria yang dikenal ramah disemua kalangan dan dikenal enthengan (senang berderma).

Dibagian akhir penjelasannya, setiap lelaki jawa memiliki keris. Keris dan warangkanya bisa berarti kita sebagai manusia harus menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.

"La kenapa keris sering ditaruh dibelakang punggung, karena sesepuh kita dahulu, meyakini, kita harus bisa ngungkurake atau menghindari godaan setan, agar kita selalu berbuat dalam kebaikan sesuai dengan aturan Allah SWT,"terang Ngesti.

Terlepas dari apa yang dijelaskan Wakil Bupati Semarang yang telah direkomendasikan oleh DPP PDI Perjuangan sebagai bakal Calon Bupati Semarang 2020 - 2025, busana menggambarkan selera dan perilaku orang yang mengenakannya.

"Terlepas dari semua makna tersirat dari busana adat Semarangan yang sering kami kenakan. Kita beri contoh kepada masyarakat Kabupaten Semarang, untuk mencintai budaya luhur Nusantara, senang bekerja keras dan tidak lupa untuk selalu berpegang teguh pada semua aturan Allah SWT. Agar Kabupaten Semarang kedepan semakin baik lagi, maju, sejahtera dan gemah ripah loh jinawi," pungkasnya. (M.Nur/Shodiq)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini