• Jelajahi

    Copyright © HARIAN 7 - Sumber Informasi dan Mitra Bisnis Anda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Adv

    Kenapa Masih Banyak Masjid dan Mushola Arah Kiblatnya Kurang Tepat, Ini Penjelasan Direktur PUSIFA

    Senin, 22 Juni 2020, 1:16:00 AM WIB Last Updated 2020-06-21T18:28:43Z
    Penulis: M.Nur

    SALATIGA,harian7.com - Kenapa di Indonesia banyak kiblat  yang tidak sesuai atau tidak mengarah tepat ke Mekah, sebab diantaranya faktor sejarah dakwah Islam ke Indonesia. Alasanya pada masa itu banyak pendakwah yang berasal dari Gujarat India, karena disana kiblatnya tepat kebarat, sehingga ketika diterapkan di Indonesia maka akan mengikuti asal pendakwah tersebut. Padahal di Indonesia kiblatnya arah Barat namun serong ke Utara. Demikian diungkapkan ahli falak dan juga Direktur Pusat Studi Ilmu Falak Indonesia (PUSIFA) M Rifa Jamaludin SHI MSI saat ditemui harian7.com, dirumahnya Perum Praja Mukti Kecandran Kecamatan Sidomukti Salatiga, Minggu (21/6/2020).

    Dijelaskan M Rifa, penyebab ketidak tepatnya arah kiblat di Indonesia yang lain diantaranya akurasi metode penentuan arah kiblat, kemudian penggunaan alat seperti pemakaian alat sederhana (Contohnya kompas) dan terkadang disebkan human eror.

    "Kenapa human eror, biasanya saat pembangunan masjid atau mushola, penentuan kiblatnya tidak dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidangnya atau memahami falak. Lalu biasanya menyamakan arahnya dengan masjid terdekat. Kemudian saat pembangunan masjid ataupun mushola tidak sesuai dengan pengukuran yang sudah ditentukan atau juga biasanya bangunan tersebut mengikuti estetika lokasi,"jelas M Rifa.

    Disamping itu, lanjut M Rifa, terdapat juga masjid dan mushola yang tidak memperhitungkan kiblatnya. Dan biasanya hanya mengikuti arah barat. Untuk itu pentingnya pengukuran arah kiblat di masjid ataupun mushola dan tempat sholat lainya, seperti rumah, hotel dan tempat pemakaman umum supaya kiblatnya mengarah ke Mekah sesuai dengan hadis Nabi yang menyatakan bahwasanya daerah yang diluar Mekah kiblatnya adalah Mekah.

    "Kalau di Jawa  kita mengacu pada patokan barat sebagaimana presepsi masyarakat umum maka kita menghadapnya ke Afrika dong.. Contohnya Kenya, Kongo, Tanzania. Jadi kiblatnya tidak menghadap ke Mekah,"terang M Rifa.

    M Rifa sedikit menjelaskan mengenai cara menentukan arah kiblat yang baik dengan akurasi yang tinggi maka diperlukan pengukuran dengan metode penentuan arah kiblat yang akurat oleh ahlinya dan akan lebih baik lagi jika didukung dengan alat yang mutakhir seperti penggunaan GPS dan Theodolit.

    Namun bisa juga dilakukan dengan menggunakan penghitungan matematis kiblat setiap saat yang tentunya menggunakan rumus dasar kiblat  yaitu segitiga bola atau yang dikenal dengan Spherical Trigonometri dengan mengetahui terlebih dahulu koordinat Lintang dan Bujur, baik ka’bah maupun lokasi yang akan diukur.

    "Meski agak rumit, cara ini bisa dilakukan kapan saja, tanpa menunggu waktu-waktu khusus.   Ada pula cara yang dinilai lebih gampang, yakni berpatokan kepada bayang-bayang yang dihasilkan matahari pada waktu tertentu yang dikenal dengan nama rashdul kiblat."

    "Rashdul kiblat itu terdiri dua macam yakni rashdul kiblat harian yang membutuhkan perhitungan khusus dan rashdul kiblat tahunan yang disebut dengan istilah Istiwa' a'dham. Istiwa' a'dham ini terjadi dua kali dalam setahun yaitu  pada tanggal 28 Mei (atau 27 Mei di tahun kabisat) sekitar pukul 16.18 WIB dan 16 Juli (atau 15 Juli di tahun kabisat) sekitar pukul 16.27 WIB. Jam-jam tersebut merupakan waktu dhuhur untuk kota Makkah,"jelas M Rifa dengan gamblang.

    Diungkapkanya, detik-detik rashdul kiblat tahunan ini menjadi momentum sederhana untuk menemukan arah kiblat yang akurat atau meluruskan kembali arah kiblat dari rumah ibadah yang sudah dibangun.

    "Dalam prakteknya setidaknya ada dua cara mudah dalam menentukan arah kiblat ketika matahari berada persis di atas ka’bah atau Istiwa' a'dham,"ucapnya.

    Pertama, dilakukan di dalam masjid ataupun mushala yang terdapat jendela di bagian mihrabnya. Misalnya di Indonesia, karena terjadi pada sore hari maka arah sinar menuju ke timur. Bila cahaya matahari yang masuk lewat jendela mihrab segaris dengan kiblat masjid/mushalla, maka artinya kiblat rumah ibadah itu sudah tepat. Namun, bila melenceng, serong ke kanan atau ke kiri, artinya patut diluruskan dengan garis semburat cahaya tersebut.

    Selanjutnya dilakukan di luar ruangan yang memungkinkan kontak langsung cahaya matahari. Yang dibutuhkan adalah bayangan dari benda tegak lurus saat rashdul kiblat berlangsung. Benda tersebut bisa terdiri dari tongkat lurus yang ditegakkan severtikal mungkin, atau benang tebal yang dibebani bandul dan menggantung di atas kayu penyangga. Garis yang ditarik dari ujung bayangan ke pangkal benda (ke arah barat sedikit serong ke utara) adalah arah kiblat yang akurat.

    "Jadi yang mesti diperhatikan sebelum melakukan itu semua, siapkan jam atau arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan jam atom, jam GPS, siaran radio, televisi, atau internet. Siapkan juga sejumlah perangkat lain, seperti spidol, penggaris, atau sejenisnya untuk menandai arah kiblat begitu rashdul qiblat berlangsung. Sejumlah persiapan itu penting agar pengamatan tak berlangsung terburu-buru karena detik-detik rashdul qiblat berlangsung hanya sebentar dengan masa toleransi kira-kira 1 hingga 3 menit,"tandas M Rifa.

    Untuk itu secara geografis/astronomis, kota Mekkah terletak di 39 derajat 49 menit 34 detik LU dan 21 derajat 25 menit 21 detik BT. Dari Indonesia, koordinat ini berada pada arah barat laut dengan derajat bervariasi antara 21 derajat -27 derajat menurut koordinat (garis lintang dan garis bujur) masing-masing daerah.   Arah kiblat Indonesia bukanlah ke barat.

    "Jika ke barat maka semua wilayah Indonesia yang terletak di 34 derajat 7 menit LU dan seterusnya (ke utara), seperti Aceh, akan lurus dengan Negara Somalia dan Ethiopia atau melenceng ke selatan sejauh 1750 km dari Mekkah. Begitu juga yang terletak di 4 derajat 39 menit LS sampai 3 derajat 47 menit LU, menghadap barat berarti lurus dengan Negara Kenya,"ungkapnya.

    "Jika masih bingung dalam penentuan arah kiblat saat hendak membangun masjid ataupun mushola maka jika dibutuhkan kami dari Pusifa siap membantu,"pungkas M Rifa.(*)
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Terkini