• Jelajahi

    Copyright © HARIAN 7 - Sumber Informasi dan Mitra Bisnis Anda
    www.harian7.com

    Adv

    Warga Jatilaba Sulap Sampah Plastik Jadi Paving Blok

    Admin: Shodiq
    Sabtu, 22 Mei 2021, 9:26:00 AM WIB Last Updated 2021-05-28T08:40:18Z

     

    Subakti (41) warga Desa Jatilaba Kec. Margasari Kab  Tegal di saat melaksanakan proses pembuatan paving blok dengan bahan baku plastik



    Laporan : M Sujoni| Kontributor Kab.Tegal


    SLAWI , harian7.com - Prihatin karena sampah plastik yang kian meningkat, Subakti (41), warga Desa Jatilaba, Kecamatan Margasari berinisiatif menyulap sampah plastik menjadi paving blok. Ide tersebut muncul saat dirinya menemukan banyak timbunan sampah di tepi jalan yang dinilainya menganggu kenyamanan.



    “Saya prihatin dan gelisah ketika ada tumpukan sampah di beberapa titik. Apalagi yang di pinggir jalan karena menganggu pemandangan. Jadi, dari sana saya ingin memberikan sumbangsih, memilah sampah plastik dan membuatnya jadi paving blok,” kata Subakti saat ditemui di rumahnya, Jumat (22/03/2021) siang .



    Adapun bahan baku utama pembuatan paving blok ini adalah sampah plastik utuh, oli bekas dan abu hasil pembakaran sampah plastik. Subakti pun mendapatkan bahan plastik ini dari sampah warga di sekitaran Desa Jatilaba. “Setiap hari kami keliling kampung untuk mengambil sampah plastik dari tong yang sudah saya sediakan khusus untuk warga,” jelasnya.



    Karena proses pembuatannya masih menggunakan sistem manual, dalam sehari Subekhi baru mampu memproduksi dua meter paving blok. Setiap satu meter terdiri dari 36 buah paving blok. “Penjualannya masih lokalan di sekitar desa saja. Itu pun belum sepenuhnya bisa dipenuhi karena keterbatasan di tenaga manusia dan kendala perlengkapan. Satu meter persegi paving blok ini kami jual Rp 75 ribu,” terangnya.

    Subakti saat menunjukkan paving blok hasil
    kreasinya


    Selain mengubah sampah plastik menjadi paving blok, Subakti juga memanfaatkan limbah sampah organik untuk membuat pupuk kompos. Satu kilogram pupuk kompos ia bandrol seharga seribu rupiah.


    Subakti berharap, ide kreatifnya ini dapat ditiru atau bahkan dikembangkan warga lainnya. Terlebih persoalan sampah ini menurutnya kian kompleks dan pengelolaan sesungguhnya menjadi tanggung jawab bersama.


    “Ayo, sama-sama kita urai masalah sampah ini. Kurangi produksinya dengan mengelola sampah secara benar. Setiap orang punya tanggung jawab sama soal sampah ini, jangan sampai dibuang sembarangan, syukur-syukur bisa dikelola dari rumah masing-masing. Sampah organik bisa jadi pupuk kompos dan sampah plastik bisa didaur ulang,” pungkasnya.



     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini