• Jelajahi

    Copyright © HARIAN 7 - Sumber Informasi dan Mitra Bisnis Anda
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Adv

    Pasangan Suami Istri Tuna Netra Diduga Ditipu Oknum Pengacara

    Rabu, 10 Februari 2021, 11:31:00 PM WIB Last Updated 2021-02-10T16:59:14Z


    NGANJUK,Harian7.com
    - Pasangan suami istri penyandang disabilitas tuna netra, Buchori dan Azis warga Dusun Patran Desa, Sonobekel, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk diduga ditipu oleh oknum pengacara.


    Kepada awak media, Aziz anak angkat dari Lami ini membeberkan bahwa ia memiliki aset berupa sawah dan pekarangan serta rumah di Dusun Njali, Desa Bungur Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Namun sekarang nasib berkata lain, karena aset yang diharapkan untuk masa depan putrinya yang bernama Risma Aulia Fitriatul Janah kini tingal impian belaka.


    “Di duga aset saya diambil alih oleh pengacara yang pada saat itu ingin membantu menguruskan balik nama surat tanah dari Lami (ibu angkat Azis, red) ke Aziz, tapi pada kenyataannya tanah tersebut menjadi atas nama Aris Mujoyo,” ungkap Aziz, Senin (08/02/2021) dengan raut wajah kebingungan.


    Ia menambahkan, waktu itu saya sedang bingung, dan sengaja saya bertemu dengan seseorang bernama Ning Sri Rahayu penduduk Dusun Gangang Malang, Desa Sumengko Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Kemudian saya berkeluh kesah kepada Ning Sri Rahayu, selanjutnya saya dikenalkan kepada seorang pengacara bernama Aris Mujoyo asal Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom, Kabupten Nganjuk.


    “Dalam pertemuan dengan pengacara tersebut terjadi kesepakatan, kalau urusan proses balik nama ini berhasil, pengacara mendapatkan bagian 30 persen. Saya pun menyetujui karena merasa tidak bisa melangkah sendiri untuk mengurus proses sertifikat balik nama dari Lami menjadi Aziz,” jelasnya.


    Namun,Lanjut Azis dari tahun 2014 sampai dengan saat ini sertifikat pun tidak kunjung jadi, dan akhir-akhir ini saya dikejutkan adanya kabar kalau sawah bagianya seluas seratus lima belas Ru atau sekitar seperempat hektar di jual ke saudara dari Yatiran, Kepala Desa Bungur.


    Sementara, Yatiran Kepala Desa Bungur saat di konfirmasi di rumahnya, Selasa (09/02/2021) menjelaskan bahwa memang benar sawah Azis di jual ke warga saya, dan bukan saudara saya.


    “Dia menjual sawah tersebut melalui kuasa hukumnya bernama Aris, dan uang hasil penjualan sawah yang menerima juga Aris. Saya berkata demikian karena saya pelaku sejarah,” ujar Yatiran.


    Di tempat berbeda, Sriatun warga Dusun Njali yang membeli tanah tersebut kepada awak media membenarkan bahwa dia membeli tanah tersebut seharga Rp 300 juta.


    “Saya membeli tanah ini karena bukan atas nama Azis tapi dalam sertifikat tanah sudah atas nama Aris Mujoyo. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri sebelum proses pembelian tanah pekarangan tersebut. Awalnya saya di sarankan untuk ke notaris di daerah Warujayeng, namun saya tolak lalu saya konsultasi ke notaris Nur Hidayat di Nganjuk,” katanya. 


    Lebih lanjut dia menjelaskan, saya sendiri sempat bingung, bagaimana bisa sertifikat Azis menjadi nama Aris? saya membeli tanah ini tanggal 1 Januari 2019 melalui notaris Nur Hidayat.


    "Bagaimana bisa seorang kuasa hukum yang dipercaya untuk mengurus seluruh aset berupa sawah dan tanah pekarangan milik Azis penyandang Tuna Netra melakukan penipuan? Saya berfikir jangan-jangan Azis telah tertipu,” ungkapnya.


    Sriatun pun sangat sedih dan prihatin melihat kondisi Azis yang sekarang tidak memiliki apa-apa, dan untuk keperluan sehari-hari didapat dari belas kasihan tetangga, karena keterbatasan fisiknya.


    “Sementara Buchori, suami Azis bekerja jika ada yang memerlukan jasanya untuk memijat demi bertahan untuk menghidupi keluarganya,” Pungkas Sriatun.


    Rumah Azis pun sudah tidak layak huni, karena pada saat hujan air banyak yang masuk rumah lantaran bocor semua. Berkat orang media dan LSM di Nganjuk, kini rumah Azis dibedah hingga layak huni.


    Pasangan Buchori dan Azis pun berkeluh kesah kepada awak media dan LSM tentang nasib anaknya bila nanti menginjak sekolah bagaimana? sedangkan sawah, pekarangan dan rumah saya telah dijual ke orang lain tanpa sepengetahuan saya.


    “Padahal semua itu harapan untuk keperluan masa depan anak saya untuk sekolah,” pungkas Buchori dan Azis sambil meneteskan air mata. (Tim)

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Terkini