• Jelajahi

    Copyright © HARIAN 7 - Sumber Informasi dan Mitra Bisnis Anda
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Adv

    Kejari Cilacap Selamatkan Uang Negara Rp 72.107.000,- Dari Kasus Dugaan Penyelewengan Uang Kas BRI

    Kamis, 19 November 2020, 12:31:00 AM WIB Last Updated 2020-11-18T17:31:22Z

    CILACAP, Harian7.com
    - Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilacap berhasil menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp 72.107.000,- dari tersangka dugaan penyelewengan uang kas di PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) persero Tbk kantor Unit Cilacap Kota dengan tersangka EWTS.

    Meski dalam kasus korupsi tersebut belum berhasil menyeret tersangka ke kursi persidangan, namun penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilacap telah berhasil menyelamatkan uang negara. Uang tersebut berasal dari tunjangan hari tua (THT) milik tersangka.

    Kepala Kejari Cilacap, Timotius Tri Ari Mulyanto melalui Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Muhammad Hendra Hidayat mengatakan, penyidik Kejari Cilacap berhasil menyelamatkan kerugian negara sebesar Rp 72.107.000,- dalam perkara dugaan penyelewengan uang kas di PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Persero Tbk kantor Unit Cilacap Kota yang dilakukan oleh tersangka EWTS.

    "Uang tersebut diserahkan perwakilan BRI pada Selasa, (17/11/2020) kepada penyidik Kejari Cilacap di ruangan Kasi Pidsus," katanya, Selasa (17/11/2020) sore.

    Sebelumnya, ungkap Hendra berdasarkan hasil penyidikan, penyidik mengetahui adanya Tunjangan Hari Tua (THT) milik tersangka EWTS yang belum sempat diambilnya. Kemudian meminta kepada BRI agar uang tersebut diserahkan kepada penyidik.

    "Setelah diserahkan kepada penyidik, selanjutnya uang tersebut dititipkan di rekening penyimpanan lain RPL Kejari Cilacap untuk disita dan dijadikan barang bukti," tandasnya.

    Lebih lanjut Kasi Pidsus mengatakan, penyidik sudah memanggil tersangka sebanyak tiga kali, termasuk dua kali sebagai saksi saat penyidikan umum.

    "Sampai saat ini tersangka belum pernah datang memenuhi panggilan penyidik untuk dimintai keterangan. Apabila tidak hadir setelah dipanggil tiga kali, maka akan kita masukan dalam daftar pencarian orang (DPO)," pungkasnya. (Rus) 

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Terkini