Iklan

Adv

Viral.. Piagam Penghargaan Dari Kemendagri Kepada Kota Salatiga Salah Tulis, LCKI Sebut Itu Pencitraan, Musibah Kok Dijadikan Ajang Kompetisi, Saya Sangat Prihatin dan Malu

Senin, 22 Juni 2020, 8:45:00 PM WIB Last Updated 2020-06-22T17:12:42Z
Piagam penghargaan sebelum dan sesudah diperbaiki.
Penulis: M.Nur

SALATIGA,harian7.com - Insiden penulisan salah ketik terjadi pada sebuah piagam penghargaan resmi dari Menteri Dalam Negeri kepada Pemerintah Kota Salatiga, dalam kompetisi Lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19. Baru-baru ini warga Kota Salatiga dihebohkan dengan beredarnya foto Piagam penghargaan yang diberikan tersebut salah tulis terkait penulisan nama kota.

Adapun tertulis pada piagam penghargaan tersebut yakni Kota Salahtiga sedangkan seharusnya yang benar adalah Kota Salatiga. Foto piagam penghargaan tersebut di unggah di media sosial facebook dan sontak menjadi pebincangan warganet serta menuai pertanyaan dari banyak kalangan, diantaranya masyarakat, LSM dan Ormas serta Anggota DPRD Kota Salatiga.

Diantaranya Milhous Teddy Sulistio SE, Ketua Fraksi PDI Perjuangan (FPDIP) DPRD Kota Salatiga. Kepada harian7.com, Senin (22/6/2020) Teddy mengungkapkan,sekelas kementrian dalam negeri kenapa bisa salah menulis nama kota.

"Sekelas kementrian dalam negeri nulis nama kota salah? Hmmm,, untung gak ditulis kota salah tujuh, nilainya tiga,"terang Teddy.

Ditandaskan Teddy jika hal tersebut adalah hanya pencitraan belaka yang berbuntut pelecehan.

"Itu pelecehan, pencitraan yang berbuntut pelecehan, urusan nyowo dinggo pencitraan,"tandas Teddy.

Diungkapkan Teddy, kenapa itu dikatakan pencitraan. Menurutnya piagam atau penghargaan yang otentik itu dari rakyat, coba saja tanya rakyat, sudah diurus bener belum kota ini.
Ketua LCKI Salatiga Joko Tirtono SH saat ditemui harian7.com.

Sementara itu, Ketua LCKI Cabang Kota Salatiga, Joko Tirtono SH menanggapi perihal diberikanya piagam penghargaan dalam kompetisi Lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19, kepada Kota Salatiga dinilainya berlebihan dan hanya pencitraan saja.

Menurutnya, kami sebagai warga Kota Salatiga dan sebagai pemerhati dengan diraihnya penghargaan tersebut tidak bangga. Alasanya pemberian piagam penghargaan tersebut teknik penilaianya apa yang diuji dan apa menjadi barometernya.

"Itu dasar penilainya tidak jelas. Karena di Kota Salatiga dengan adanya new normal ini angka terpapar Covid-19 terus meningkat,"ungkapnya saat ditemui harian7.com di Kantor Sekretariat LCKI Salatiga Jalan Senjoyo No 27 Salatiga, Senin (22/6/2020).

Disampaikan Joko Tirtono, pihaknya justru prihatin dengan didapatnya piagam tersebut. Karena ini wabah penyakit, namun kenapa justru dijadikan ajang kompetisi.

"Ini itu apa, capainya apa, nggak jelas banget. Saya contohkan jika kondisi disini seperti di Kota Tegal mendapat penghargaan itu wajar. Pemimpinan hebat yang terus bisa menekan angka kasus Covid 19. Itu tokoh-tokoh yang patut kita contoh.  Lha ini kasus Covid semakin meningkat dapat penghargaan,"jelas Joko Tirtono.

Soal diraihnya pigam penghargaan, lanjut Joko Tirtono,  kita ini orang organisasi tentunya tahu. Dan yang lebih memalukan lagi dalam penulisan nama kota. Dalam piagam tersebut dituliskan Kota Salahtiga. Perlu kita kasih tahu jika penulisan Salatiga itu tidak pakai H.

"Kalau salah tiga berarti masih ada yang salah tuju. Artinya masih ada kesalahan juga disitu. Inikan piagam setingkat menteri mewakili nasional, ya malu jika dipasang begitu, sekalipun sudah direvisi,"tandas Joko Tirtono.

Untuk itu bagi kami itu tidak memiliki banyak arti. Ingin dipasang dimana sebagai warga Salatiga tentunya sangat malu. Yang memprihatikan seharusnya jangan dijadikan ajang perlombaan, mengingat Covid 19 adalah musibah dunia.

"Ini musibah, terus dari piagam itu apa yang dibanggakan. Dari sisi pandang saya daripada sibuk pencitraan seperti itu, lebih baik koreksi penggunaan anggaran kurang lebih 71 milyar untuk penanganan Covid 19. Digunakan berapa, untuk apa, keperluanya apa saja dan yang berani mengkoreksi siapa. Harusnya itu dulu yang dimaksimalkan,"terangnya.

Dengan anggaran sebesar itu saja kalau kita lihat dilapangan masih kurang merata dalam pengalokasianya. Masih banyak dijumpai di beberapa wilayah yang belum tepat sasaran.

"Contohnya salah satu wilayah RT ada yang dapat dua saja namun ada juga yang dapat enam belas. Lha itu saja masih menjadi polemik kok bisa dapat penghargaan,"ungkapnya.

"Terus dasar regulasi atau standarisasi untuk mencapai sebuah piagam itu apa, terus yang dinilai apa coba. Kasihan masyarakat hanya selalu disuguhi pencitraan ya.. dan bahkan sudah tidak menjadi citra. Kita sudah bosen dan muak!. Harusnya sesuai kondisi yang ada saja, sesui faktual saja,"jelas Joko Tirtono.

Untuk itu, masih kata Joko Tirtono, mengenai piagam tidak usah dibanggakan, karena tulisanya saja salah. Kita sebagai warga malu.

"Pesan bagi pak menteri harusnya teliti. Itu yang nulis siapa, yang pegang IT nya siapa, yang cetak siapa, protokolernya siapa. Harusnya dikoreksi dulu sebelum diberikan. Setingkat lembaga negara kok ceroboh. Dengan adanya itu sungguh sangat memalukan. Dan satu perlu diketahui saat ini masih banyak warga terpapar Covid-19, banyak warga yang masih kekurangan kok malah dijadikan lomba kompetisi,"terangnya.

Dan perlu kami sampaikan, sebagai warga Kota Salatiga merasa sangat prihatin.
"Mohon maaf pak wali ya, kami ini sebagai kontrol bukan sebagai musuh, bukan sebagai perusuh. Kami mengungkapkan itu semua semata demi kebaikan dan kemajuan kota kita tercinta ini. Dan juga mohon maaf kepada pak menteri, itu segera dibetulkan tulisan yang salah, namun tidak usah dipasang,"tegas Joko Tirtono.

Terpisah, Walikota Salatiga H Yulianto SE MM saat dihubungi harian7.com terkait adanya salah tulis nama kota pada piagam tersebut menyampaikan jika saat ini sudah diperbaiki.

"Sudah diperbaiki,"jawab singkatnya.

Saat disinggung apakah sebelum diterima tidak dicek terlebih dahulu, Yulianto mengungkapkan jika salah tulis tersebut setelah turun dari stage.

"Tahunya setelah turun dari stage terus lapor,"pungkasnya.(*)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini