Iklan

Adv

Menanggapi Tentang "Era New Normal" Yang Disosialisasikan Pemerintah Pusat, Begini pandangan dan Penjelasan Lindu Aji Salatiga Terkait Rencana Penerapannya

Kamis, 04 Juni 2020, 6/04/2020 07:42:00 PM WIB Last Updated 2020-06-04T12:42:07Z
Ketua DPC Lindu Aji Kota Salatiga.
Penulis: M.Nur

SALATIGA,harian7.com - Indonesia kini memasuki babak baru dalam menghadapi wabah Corona. Pemerintah pun tengah menyiapkan kebijakan kenormalan baru (new normal) tersebut. Menanggapi hal itu, Ketua DPC Lindu Aji Kota Salatiga Heri Subroto mengimbau pemerintah kota untuk melakukan persiapan-persiapan untuk memasuki kenormalan baru (new normal). Selain itu juga menghimbau masyarakat di Salatiga untuk selalu mematuhi anjuran pemerintah terkait protokol kesehatan.

Mengawali perbincangan dengan harian7.com, Kamis (4/6/2020) menyampaikan sebelum pengkajianya lebih jauh, kita ulas dulu tentang apa itu New Normal..?! dan yang dimaksud New Normal.

Diungkapkan Heri, New Normal adalah sebuah kebijakan untuk membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas degan menggunakan standar kesehatan yg sebelumnya tidak ada di era sebelum pandemi.

"New Normal itu adalah upaya menyelamatkan hidup warga dan menjaga agar Negara/Daerah tetap bisa berdaya menjalankan fungsinya,"tutur Heri.

New Normal adalah tahapan baru setelah kebijakan stay at home atau work from home atau pembatasan sosial diberlakukan untuk mencegah penyebaran masif wabah virus corona, New Normal utamanya agar warga yg memerlukan aktivitas luar rumah dapat bekerja dgn menggunakan standar kesehatan yg ditetapkan. Jadi bukan sekedar bebas asal bebas bergerombol atau keluyuran.

Diterangkanya, New Normal diberlakukan karena tidak mungkin warga terus menerus bersembunyi di rumah tanpa kepastian. Tidak mungkin seluruh aktivitas ekonomi berhenti tanpa kepastian yang menyebabkan kebangkrutan total, PHK massal dan kekacauan sosial.

"New Normal ditujukan agar Negara/Daerah tetap mampu menjalankan fungsinya sesuai konstitusi. Bahwa pemasukan Negara berasal dari pajak dan penerimaan Negara lainnya. Jika aktivitas ekonomi berhenti total maka Negara tidak punya pemasukan, akibatnya Negara juga tidak bisa mengurus rakyatnya,"ucap bapak dua anak ini.

New Normal HARUS diberlakukan,tandas Heri. Jadi dengan kesadaran penuh bahwa wabah Corona masih ada disekitar kita. Untuk itu aktivitas ekonomi/publik diperbolehkan dengan syarat menggunakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

"Jika New Normal tidak dilakukan maka dampak sosial ekonomi tidak bisa dipertahankan.Kebangkrutan ekonomi akan membawa efek domino kebangkrutan Negara/Daerah,"beber Heri sembari menyeruput secangkir kopi.

Maka disampaikanya, jika ada yang tidak setuju dengan New Normal, silahkan terapkan untuk tetap tinggal dirumah saja. Kenyataanya banyak orang yang harus tetap keluar rumah untuk bisa menghidupi keluarganya. Tidak semua orang bisa bertahan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun untuk tetap bisa menghidupi keluarganya.

Untuk memastikan New Normal bisa berjalan baik, maka pemerintah harus melakukan upaya yang sistematis, terkoordinasi dan konsisten dalam melakukan pengawasan publik serta law enforcement. Di dalamnya juga termasuk memperbesar sektor kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan penderita Covid-19.

"Pemerintah Pusat dan Daerah harus bersinergi untuk memastikan pemeriksaan kesehatan yg massif, tersedianya sarana perawatan peralatan medis, SDM, melindungi mereka yg paling rentan melalui penyiapan pengamanan sosial yang tepat sasaran & perlindungan kesehatan,"paparnya.

Harus Dilandasi Dengan Kedisiplinan

Harus dengan kedisiplinan yang tinggi untuk menjalankan protokol kesehatan dan protokol komunikasi, upaya untuk memutus mata rantai COVID-19 dengan jaga jarak, pakai masker, cuci tangan pakai sabun pada air yang mengalir dan jangan sekali kali mengusap wajah sebelum cuci tangan dengan sabun menjadi tantanan norma baru dalam keseharian kita sampai ditemukannya vaksin dan obat COVID-19.

"Kondisi ini harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh komponen masyarakat, wajib adanya kerjasama dengan lima jaringan sinergi, diantaranya lembaga pemerintah, masyarakat, sipil, dunia akademis, dunia usaha dan media harus terus bersinergi dan bergotong-royong dalam menghadapi pandemi COVID-19,"ucap Heri.

Maka di tandaskan Heri, sebelum New Normal ini beradaptasi kemasyarakat sebagai tantanan norma baru, apakah masyarakat Indonesia dinilai mampu mengendalikan Covid-19..?! karena kita berasumsi mengacu pada level kewaspadaan Covid-19.

"Istilah itu bukan pelonggaran, bukan juga relaksasi, itu merupakan adaptasi terhadap situasi yang baru. Misalnya terhadap kegiatan ekonomi, maka dibuat dan dipersiapkan protokol cara baru,"terangnya.

Contohnya tatanan norma baru yakni ditempat pembelanjaan, pasar, atau juga warung-warung maupun pertokoan. Ini wajib menerapkan jaga jarak, penggunaan masker dan cuci tangan dengan menggunakan sabun pada air mengalir. Sselain itu kapasitas pengunjung harus dibatasi/terbatas, semua tempat pembelanjaan tersebut, diwajibkan membuat surat pernyataan bahwa yang bersangkutan. Siap memenuhi protokol barudi New Normal dan siap mendapatkan sanksi jika melanggar.

"Itinya hanya terbagi dalam tiga, yakni menjaga jarak, harus menjaga hegienis yakni menggunakan masker, dan cuci tangan dengan Sabun ketika keluar masuk dari sebuah tempat,"ungkap Heri.

Selain tempat pembelanjaan/pasar, masih kata Heri, tantanan norma baru akan diterapkan kesemua sektor diantaranya, Pendidikan, Perkantoran, Rumah Ibadah, Pertanian/Perkebunan dan Industri. Tantanan norma baru ini harus dikawal oleh yang berwenang dan TNI, Polri.

"Minimal selama 14 hari. Kunci dari kesemuanya adalah kedisiplinan masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan dan protokol komunikasi dalam menjalankan penerapan norma baru ini,"jelas Heri.

Kesimpulan Uraian

Dari uraian diatas, jelas Heri, "Jika saya korelasikan untuk penerapan New Normal di kota Salatiga jika ada pertanyaan "Siap atau tidak Siap Salatiga menghadapi New Normal ?", untuk saat ini Salatiga "BELUM SIAP".

Alasan Apa yang mendasari Salatiga belum siap menghadapi new normal, yakni kultur masyarakat Salatiga yang unik dalam memandang Covid-19. Masih terus bertambahnya masyarakat yang terpapar covid-19 (Kesadaran Masyarakat dan fungsi kontrol Pemangku kebijakan tentang Covid-19 harus lebih dioptimalkan lagi). Belum nampak adanya kebijakan pemanfaatan tanah²² bengkok/Pemkot yang produktif untuk segera di manfaatkan sebagai lahan pertanian pangan/apotik hidup/tanaman dengan manfaat peningkatan imunitas (antisipasi pengalaman dari sejarah "Setiap terjadinya suatu wabah pasti akan mengakibatkan paceklik/pagebluk" disamping geografis Salatiga yang sangat kecil lahan pertanianya, Salatiga juga masih mengandalkan suplay kebutuhan hasil pertanian dari daerah luar Salatiga dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya, padahal kemungkinan paceklik/pagebluk akan membuahkan kebijakan yang berbeda-beda di masing-masing daerah karena adanya otonomi Daerah).

Paceklik/Pagebluk

"Jika dilihat dari pengalaman sejarah yaitu "setiap terjadinya suatu wabah, mayoritas akan mengakibatkan paceklik/pagebluk oleh karenanya saya mengharapkan Pemkot Salatiga dapat lebih menghemat APBD,"harapnya.

Lebih lanjut Heri mencotohkan, penundaan pembangunan non Urgency, penundaan penerimaan CPNS diiringi dengan memaksimalkan ASN yang sudah ada untuk dapat mensupport kinerja Pemerintah dalam menjalankan Pemerintahan.(menurut saya akan lebih menghemat anggaran Pemerintah).

"Hal yang saya sampaikan bukan tentang masalah "Siap atau Tidak Siap" pada kebijakan New Normal untuk Kota Salatiga, namun semua ini lebih kepada masukan untuk Pemerintah Kota Salatiga karena siap atau tidak siap, kita semua secara alami akan dipaksakan untuk siap mengikuti kebijakan New Normal ini,"ucap Heri.

Menutup perbincangan dengan harian7.com menyampaikan,"Monggo Pemerintah Salatiga segera mengambil sikap yang isinya mengatur segala hal terkait,pencegahan Covid-19,penanganan Covid-19,kesiapan untuk menghadapi New Normal, dan kemungkinan adanya kondisi paceklik/pagebluk. Kebijakan Pemkot harus mencakup semua sektor yang ada,"pungkas Heri.(*)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini