Iklan

Adv

Meski Hanya Dihadiri Pria, Tradisi "Riyoyo Kupat" di Kauman Bintoro Demak Berlangsung Kidmat

Selasa, 02 Juni 2020, 5:50:00 AM WIB Last Updated 2020-06-01T22:54:37Z
Suasana saat "lebaran kupat berlangsung"

DEMAK,harian7.com - Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah di hari ketujuh setelah hari raya Idulfitri, warga Kauman Bintoro Demak menggelar tradisi riyoyo kupat atau lebaran kupat, Minggu (31/5/2020). 

Meskipun acara digelar ditengah suasana pandemi Covid-19, masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah.

Adapun dalam sajian khas riyoyo seperti  kupat,  lepet, nasi kuning dan lontong opor dibawa warga dan sudah dikemas dalam kardus, mika maupun kemasan lain agar lebih higienis.

Sesepuh kampung Kauman Bintoro Abdul Fatah mengatakan, kegiatan tradisi sedekah riyoyo merupakan kegiatan positif yang sudah turun temurun dilakukan dan merupakan tradisi peninggalan leluhur yang harus dilestarikan. Namun, di tengah pandemi Covid-19, warga yang hadir wajib menaati protokol kesehatan, seperti memakai masker, tidak boleh berjabat tangan dan harus menjaga jarak.

“Acara ini merupakan ajang silaturahmi, sebagai bentuk interaksi sosial serta ungkapan syukur dengan berbagi dan bersedekah. Namun karena kita masih ada di situasi pandemi seperti sekarang ini kita harus tetap menjaga jarak dalam berinteraksi, namun bukan berarti mengisolasi diri atau menutup diri dari lingkungan sosial. Kita bisa lakukan seleksi dalam berinteraksi sehingga tetap tenang, aman, nyaman dan terjalin rasa persatuan,” terang Abdul Fatah.

Menurutnya, tradisi riyoyo bakda kupat (lebaran kupat) merupakan peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga yang sangat kental akulturasi budaya Jawa dan kebiasaan umat Islam dalam menyambut hari raya Idulfitri. Agama Islam berkembang di wilayah Jawa berawal dari Demak melalui akulturasi budaya yang ajarannya dibawa oleh Sunan Kalijaga.

Disampaikan, Sunan Kalijaga mengenalkan lebaran ketupat melalui hidangan ketupat pada saat lebaran ketupat pada 8 Syawal. Karena enam hari sebelumnya umat muslim menjalankan ibadah puasa sunnah di bulan Syawal. Kupat itupun juga memiliki makna yang sangat dalam, bukan hanya sebutan sebuah makanan namun lebih memiliki arti ‘mengaku lepat’ atau ‘mengaku salah’.

Ketua RT 02 Kauman Novianto menyampaikan, kegiatan nguri-uri tradisi yang telah menjadi kegiatan keagamaan dalam mengaktualisasikan rasa syukur kepada Allah juga dilakukan dengan pembacaan doa agar terhindar dari segala wabah, termasuk virus Corona. Ditambahkan, hanya pria yang boleh menghadiri tradisi ini, sedang wanita dan anak-anak tidak diperbolehkan menghadirinya.

“Dan kami membatasi hanya untuk warga satu kampung saja yang hadir, tanpa ada anak anak dan wanita. Serta mewajibkan warga yang datang mematuhi protokol kesehatan,”pungkasnya.(Mus/rls/hms jtng)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini