Iklan

Adv

Kopi Sumowono Pernah Jaya Di Era Kolonial, ASKAS Akan Kembalikan Kejayaan Itu

Rabu, 12 Februari 2020, 2/12/2020 01:17:00 PM WIB Last Updated 2020-02-12T06:27:59Z
Ungaran,harian7.com – Dahulunya cita rasa kopi Sumowono pernah terkenal dan melegenda pada masa kolonial Belanda. Namun seiring kemerebakan produksi kopi di berbagai wilayah, persaingan semakin ketat.

Untuk mengembalikan kejayaan kopi Sumowono, Giyono bersama beberapa teman pencinta kopi mendirikan Asosiasi Kopi Asli Sumowono (Askas). Menurut Giyono, Askas tak hanya memperhatikan pemasaran, tapi bersama kelompok tani akan melakukan edukasi cara bercocok tanam dan pengolahan kopi kepada para petani. Di antaranya, penggunaan pupuk nonpestisida, menghindari petik hijau, serta penjemuran biji kopi yang higienis. Sehingga mutu biji kopi benar-benar terjaga.

“Selama ini penjualan dilakukan secara langsung ke beberapa kafe di Kabupaten Semarang, Yogyakarta, Magelang dan Purwodadi. Sedangkan secara online, pesanan kerap datang dari pembeli di Sumatera hingga Kalimantan,”kata Giyono pada acara Sumowono Ngopi Bareng, di halaman Kantor Kecamatan Sumowono, Selasa (11/2/2020).

Ditambahkan Giyono, saat ini kopi Sumowono yang sudah diolah dalam bentuk bubuk, beredar di pasaran dengan berbagai merek. Seperti, kopi Lempuyangan, Esensa, Jlegong, Sukorini, Candisongo, Gumukdali dan Biyung. Dia berharap jalinan kerja sama pengusaha kopi dalam kelompok Askas akan dapat menciptakan satu produk kopi asli Sumowono yang memiliki cita rasa khas.

“Ada sekitar 10 merek produk kopi Sumowono yang beredar di pasaran saat ini. Nantinya, hanya ada satu merek Askas yang mewakili cita rasa tinggi kopi dari wilayah kami,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan Kabupaten Semarang Wigati Sunu meminta para pengusaha kopi Sumowono membentuk korporasi guna membuka pasar yang lebih luas. Dia mencontohkan produk kopi Gunung Kelir Kecamatan Jambu yang telah mampu menembus pasar ekspor hingga Timur Tengah dan Eropa.

“Kabupaten Semarang adalah salah satu sentra kopi terbaik di Jawa Tengah. Perlu kerja sama antara petani dan pengusaha lokal agar bisa berkomunikasi bisnis dengan para eksportir,” pintanya.

Sunu menjelaskan, saat ini minum kopi tengah menjadi trend di kalangan generasi muda. Terbukti dengan adanya puluhan barista atau penyaji kopi dari kalangan anak muda. Menurutnya kondisi ini menjadi peluang pasar tersendiri untuk produk kopi unggulan.(Aan/rls/Jun/hms)
Komentar

Tampilkan

Tidak ada komentar:

Terkini